Production Notes

Seluruh lagu diciptakan dari hasil jamming dan direkam langsung di Studio Boemi, Yogyakarta, 15 Desember 2009

Mixing oleh Wok The Rock dan Krisna Widhiatama

Sound effect oleh Krisna Widhiatama

Seluruh lirik lagu diambil dari koran Merapi kecuali pada lagu “MySpace Music Manifesto” dan “Keracunan Identitas” diucapkan spontan oleh Wok The Rock

Video “Tong Setan” direkam pada konser “Meniup Sangkakala” di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta, 5 Januari 2010. Direkam oleh Giras dan disunting oleh Irvin Domi

Lagu “Tong Setan” diciptakan oleh Sangkakala, Lirik lagu oleh Baron Capulet Araruna

 

THE SPEKTAKULER:

Edwin Dolly Roseno: Drums

Iyok Prayogo: Gitar Elektrik

Krisna Widhiatama: FX

Uji Handoko: Vokal, FX

Wok The Rock: Vokal, Bas Elektrik

Liner Notes

No-wave / art-punk / noise-rock memang lahir dari tangan para mahasiswa jurusan seni angkatan ’78 dari kota New York. Mereka meredefinisi punk-rock dengan memainkannya dalam versi tersendiri, tanpa harus mengikuti aturan baku. Karena punk-rock adalah tentang kebebasan dan pemberontakan terhadap segala pakem-pakem yang berlaku. Sama halnya dengan The Spektakuler (sebuah “super-group” yang merupakan hasil merger dari Black Ribbon dan Demi Tuhan, dua band yang cukup berpengaruh di scene experimental / indie-music di kota Yogyakarta. Individu-individu di dalamnya pun adalah orang-orang yang berdedikasi penuh, entah itu di scene musik independen lokal maupun di scene seni kontemporer lokal), kumpulan seni-boy yang bermain-main dengan media musik, bermodalkan semangat nihilisme punk-rock.

Konsep dari The Spektakuler adalah interpretasi musik dari teks dan gambar yang ada di blog http://thespektakuler.tumblr.com. Yang mana teks dan gambar di blog tersebut bertemakan fenomena sosial-politik-ekonomi-budaya lokal yang gagal dan menyimpang. Gimmick ‘kitsch’ yang diciptakan oleh The Spektakuler pun tergolong unik. Ketika band-band industri di televisi berusaha untuk tampil “cool” namun malah berakhir menjadi “alay”. Sementara kasus The Spektakuler adalah sebaliknya, mereka berusaha untuk tampil “alay” tapi berakhir menjadi “cool”!

Untuk musik, The Spektakuler menggarapnya memakai konsep jam-band, tapi dengan skill seadanya ala punk-rock: musik tiga kord yang minimalis dan monoton berbalutkan eksperimentasi noise yang super-bising. Juga lirik-lirik repetitif mereka yang singalong-able dan diambil dari “koran-koran kuning”. Sepertinya The Spektakuler bisa merangkum segala kejanggalan musik dari Suicide, kharisma dari Lou Reed, keliaran aksi panggung dari The Stooges & lirik-lirik cerdas dari Jello Biafra! Bagaimana tidak? Bayangkan saja, saat ini mana ada band lokal yang menulis lirik “Racikan kemangi, vagina wangi, Viagra corporation!”

Mungkin beberapa dari kalian bakal menyebut rekaman ini sebagai no-wave / art-punk / noise-rock / whatever, tapi bagi saya tetaplah punk-rock. Karena musik yang dimainkan oleh The Spektakuler itu terasa jujur, tanpa berniat untuk mengkopi gaya dari kelompok musik tertentu. Output yang keluar pun terasa bebas, sesuai dengan alur intuisi seni yang mereka kerjakan di The Spektakuler: tidak mengenal batasan. Tapi mengapa saya banyak menulis kata “punk-rock” di sini? Mungkin karena itulah hal terjujur yang saya rasakan ketika mendengarkan EP ini. Jadi mari rasakan bersama-sama, sajian punk-rock ala The Spektakuler dengan campuran Monosodium Glutamat takaran tinggi!…
(Dede /Wastedrockers)