Production Notes

Kasimyn/Aditya Surya Taruna: Computer, Synth

Ican Harem: Vocal
Direkam di Kediaman Kasymin, Studio Karyawan Karyawan Karyawan
Desa Tibubeneng, Bali
Mixing & Mastering: Kasimyn
Desain Cover oleh Teknovoid
Logo Gabber Modus Operandi oleh Billy Agustan

Liner Notes

Delapan tahun yang lalu di situsweb Wasted Rocker terjadi debat sengit menanggapi artikel ulasan album “Megamix Album” dari TerbujurKaku yang ditulis oleh Gembira Putra Agam (ASAM, Sungsang Lebam Telak, A Stone A). Debat tersebut dipicu oleh komentar keras dari Jerome (Javabass). Perdebatan di kolom komentar yang sengit dan panjang tersebut bisa dibilang forum diskusi paling ramai antar pegiat musik elektronik di Indonesia. Atau tepatnya di jagad internet Indonesia. Meskipun muncul dua kubu yang saling bertentangan, tanggapan dari TerbujurKaku maupun Jerome sebenarnya sudah sangat jelas posisinya masing-masing. Album dangdut remix TerbujurKaku memang lemah dalam segi teknis namun tak bisa dipungkiri praktik yang dilakukannya telah memicu munculnya eksplorasi-eksplorasi atas musik dangdut/koplo di kalangan kelas menengah. Eksplorasi tersebut belum tentu bisa didemonstrasikan dalam strata kelas sosial yang sama. Banyak hal yang mempengaruhinya seperti misalnya perbedaan minat, selera, tongkrongan, pengetahuan, keahlian, gaya becanda, bahkan kekuatan politik.

Sama seperti TerbujurKaku atau Barokka, Gabber Modus Operandi juga merupakan representasi kelas bawah oleh warga yang mengenyam pendidikan tinggi, penggemar musik manca mutakhir atau yang hidup dalam ekosistem musik indie. Meskipun toh nasib ekonominya tidak sedikit yang lebih kere. Gabber Modus Operandi dioperasikan oleh dua personel yang kesehariannya dekat dengan klab-klab malam dan kehidupan jalanan. Dua personelnya Ican Harem dan Kasimyn juga bukan orang baru di kancah subkultur musik underground. Keduanya sepantaran dengan TerbujurKaku. Generasi awal kaum milenial yang gemar mengamati fenomena dan perilaku unik masyarakat kontemporer dengan jeli dan juga nakal. Mereka juga giat di dunia seni kontemporer lokal, bisa dilihat dari namanya yang merupakan plesetan dari nama sebuah kelompok seniman interdispliner asal Jogja akhir ’90an: Geber Modus Operandi. Perkembangan keahlian teknis yang dimiliki Kasimyn saat ini mampu mengolah tekstur, karakter dan emosi musik tradisional dengan gaya gabber yang canggih tanpa harus ‘memperkosa’ yang adi luhung. Apakah musik seperti ini bisa diakses oleh masyarakat luas? Pertanyaan ini menurut saya salah. Jika kita menilik kembali pengembangan karya seni garda depan yang selalu berputar di ranahnya sendiri, pertanyaan yang tepat adalah, bagaimana kita mendistribusikan praktik seperti ini secara luas? Hal ini bisa kita mulai dengan menginisiasi dukungan dan kritik yang komprehensif dengan hati yang lapang dan pemikiran yang terbuka. Buka dulu, baru digoyang! — Wok The Rock