biennale

Biennale Jogja (BJ) merupakan perhelatan besar seni rupa dua tahunan yang secara rutin diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Biennale, dalam 27 tahun perjalannya selalu konsisten dengan perubahan. Artinya, dalam setiap penyelenggaraannya, Biennale Jogja senantiasa menghadirkan berbagai ide dan gagasan yang baru. Pada penyelenggarannya yang ke-13 kali ini, Biennale Jogja untuk pertama kalinya menghadirkan musisi sebagai seniman partisipan dalam program pameran utama. Adalah Punkasila, Rully Shabara, dan Wukir Suryadi, tiga musisi yang akan bergabung bersama 31 seniman lainnya untuk berpartisipasi dalam Biennale Jogja XIII.

punkasila

Punkasila, bisa dibilang kelompok musik yang berbasis di Yogyakarta dan Melbourne ini sudah cukup akrab dengan Biennale. Pada tahun 2009 lalu, Punkasila sempat mengecap pengalaman sebagai partisipan dalam Havana Biennale di Kuba. Punkasila sendiri merupakan kelompok musik yang berawal dari proyek seni yang digagas oleh Danius Kesminas, seniman asal Australia bersama beberapa seniman, musisi dan peneliti Indonesia di Yogyakarta pada tahun 2006. Proyek tersebut kemudian berlanjut menjadi kelompok seniman dengan ketertarikan pada berbagai masalah sosial dan budaya dalam masyarakat urban. Ketertarikan tersebut dituangkan dalam medium lagu, modifikasi instrumen musik, kostum, video, komik, desain, lukisan, dan medium seni lainnya. Saat ini Punkasila telah menerbitkan 2 album musik, yaitu Acronym Wars dan Crash Nation yang didistribusikan oleh Yes No Wave Music dan Revolver – Archiv fur Aktuelle Kunst.

Dalam Bienalle Jogja XIII, Punkasila akan melakukan kolaborasi dengan Slave Pianos (kelompok seniman dari australia) dan Fitri Setyaningsih (penari kontemporer). Dalam karya bertajuk Rough Machine/Soft Power ini, mereka akan bekerja di sekitar isu bagaimana kekacauan dan ketakutan dikelola sebagai modal budaya masyarakat. Bagi pemegang kekuasaan, seperti negara, pasar, atau kelompok paramiliter, kemampuan untuk menciptakan dan mengendalikan kekacauan merupakan modal politik mereka yang berharga. Sebaliknya bagi kelompok masyarakat tertindas, kekacauan merupakan alat untuk menandingi dominasi rezim yang berkuasa. Di jalanan, cara berbagai kelompok masyarakat untuk menandingi otoritas kuasa ini adalah dengan kebisingan dan penampilan yang terencana. Kebisingan suara mesin, koreografi rute berkendara, dan berbagai aspek pertunjukkan lainnya adalah suatu bahasa bersama dalam medan pertandingan kuasa. Sebagai manifestasinya, mereka akan memodifikasi knalpot motor menjadi alat musik brass untuk dimainkan di panggung serta konvoi di jalanan.

rully

Rully Shabara adalah seorang seniman yang banyak bekerja dengan bebunyian dan musik. Proyek musik pertamanya “Zoo” merupakan sebuah band post-hardcore punk yang dibangun dari proses penemuan kembali peradaban post-apocalyptic, dengan menyasar tema spesifik dalam tiap albumnya. Pada tahun 2011 ia berkolaborasi dengan Wukir Suryadi – Seorang pembuat instrumen musik dan membentuk “Senyawa”, yang memperlebar khasanah musik secara ekstrim. Keduanya pernah menjalani serangkaian tur dan berkolaborasi dengan para musisi eksperimental terkenal lintas benua. Proyek terkininya “Raung Jagat” merupakan sistem paduan suara yang secara spesifik ia ciptakan untuk memimpin improvisasi vokal dengan metode total eksperimental.

Konsep Raung Jagat tersebut akan dibawa oleh Rully ke dalam Biennale Jogja XIII dalam proyek Do.Re.Mi.No dan Cari Padu. Bagi Rully, spontanitas adalah satu bentuk cara menghadapi konflik. Spontanitas mencari jalannya sendiri di tengah kekacauan, memanipulasi ruang atau mengakali situasi. Dalam spontanitas, individu ataupun dalam kelompok, menciptakan proses menuju pemahaman atau bahkan menciptakan solusi. Dalam karya ini, Rully Shabara menggunakan spontanitas sebagai kata kunci untuk menciptakan metode pengolahan kekacauan dan konflik. Kekacauan ditampilkan dengan bunyi suara manusia, sedangkan potensi untuk konflik diwujudkan dengan pengaburan batas antara pengunjung dan karya seni. Bagaimana pengunjung menciptakan posisi diri di tengah riuh rendah suara dan ruang yang cair, lalu mengambil nilai produktif di tengah kekacauan ini?

wukir

Wukir Suryadi adalah seorang musisi yang belajar seni secara otodidak di Sanggar Teater Idiot, Malang sejak usia 12 tahun. Ketertarikannya pada musik eksperimental didapatkan dari komposer musik kontemporer, I Wayan Sadra. Akar seni tradisi yang Ia miliki memberikan karakter unik dalam eksplorasi bunyi melalui penciptaan instrumen musik dan komposisi musik yang menerabas batas musik tradisional, dari avant-garde hingga death metal. Bersama Rully Shabara, Wukir membentuk band Senyawa yang membawanya ke kancah musik eksperimental dunia. Pada tahun 2013-2014, Ia berpartisipasi sebagai musisi dan ko-kurator pada proyek seni The Instrument Builders Projet bersama Kristi Monfries dan Joel Stern. Wukir telah banyak berkolaborasi dengan beragam seniman penting diantaranya adalah I Wayan Sadra, Leo Kristi, Arahmaiani, Melati Suryodarmo, Keiji Haino, Kazuhisa Uchihashi, Damo Suzuki, dan Rabih Beaini.

Dalam Biennale Jogja XIII, Wukir akan berkolaborasi bersama Ardi Gunawan, seorang pengajar sekaligus seniman multi-disiplin asal Jakarta untuk menyajikan sebuah karya berjudul Hacking Artworks. Proyek ini memandang setiap karya seni memiliki nilai yang berbeda, bahkan lebih tinggi, dibandingkan dengan benda-benda lainnya walau terbuat dari jenis material yang sama. Hal ini disebabkan oleh muatan nilai simbolis yang tinggi di dalam tiap karya seni. Nilai simbolis ini ditambahkan sedikit demi sedikit —oleh seniman, kurator, kritikus seni— di tiap proses produksi yang dilewati oleh karya seni tersebut. Proses produksi karya seni juga mencakup pengolahan material yang selalu meninggalkan sisa atau bahkan “sampah”. Apakah sampah-sampah ini masih menyimpan nilai, baik simbolis maupun material, yang dapat dimanfaatkan? Dalam karya ini, Wukir Suryadi bekerja sama dengan Ardi Gunawan untuk membuat instrumen musik dari karya seni yang dianggap usang oleh senimannya. Instrumen musik ini akan ia mainkan bersama musisi dan komposer profesional dalam sebuah pertunjukan musik.

Kehadiran tiga musisi dalam penyelenggaraan Biennale Jogja kali ini menegaskan bahwa Biennale Jogja merupakan sebuah pameran yang dirancang sebagai sebuah penciptaan karya kolaboratif yang sinergis dalam lingkup seni kontemporer secara luas, bukan hanya seni rupa. Di sini, musisi sebagai seniman partisipan tidak hanya duduk sebagai pihak yang tampil untuk menyajikan karyanya, namun secara aktif melakukan kolaborasi terbuka dengan berbagai pihak untuk menciptakan dan mengembangkan suatu proyek seni lintas disiplin.

Flattr this!