Scroll down for english translation

Lama tak beredar, Zoo malah melansir album seminal “Trilogi Peradaban”…

“Judul album memang selalu efektif untuk digunakan sebagai penegasan pesan. Di EP ’Kebun Binatang’, judul album sengaja merupakan terjemahan langsung dari nama band untuk mempertegas pesan. Kini saatnya mempertegas tema. Dengan judul yang lugas, penggunaan nama-nama peradaban kuno di setiap babak.” ungkap Rully ketika ditanya tentang alasan dibalik judul albumnya. Cukup lama memang semenjak album mini “Kebun Binatang” milik punggawa dari lini terdepan musik eksperimental, Zoo dirilis. Akhirnya penantian panjang itu lunas terbayar dengan album prestisius “Trilogi Peradaban” yang rilis dibawah netlabel Yes No Wave Music. “Sebagian besar lagu di album ini pun sebenarnya ditulis pada masa yang tidak berjauhan dari penulisan materi2 yang ada di ‘Kebun Binatang’, hanya saja kebetulan direkam lebih belakangan.” papar Rully. Selanjutnya, giliran mereka mempresentasikan karya dalam format live mengiringi sebuah film bisu malam itu…

Pentas Peradaban Kuno

Di pelataran depan terdapat sebuah stand sablon bagi pengunjung yang memiliki keterbatasan dana untuk membeli pernak-pernik Zoo. Dengan ongkos Rp.5000,- semua media berbasis kain dapat berhias logo album terbaru Zoo. Cukup banyak calon penonton yang melirik dan menggunakan jasa ini sembari menunggu pintu masuk dibuka.

Acara yang dijadwalkan mulai tepat pada pukul 7 malam, mesti menemui keterlambatan karena sang drummer mengalami sedikit hambatan. Baru pada pukul 8.15 pintu masuk ditutup sesuai dengan ketentuan yang tertera pada brosur. Dedaunan yang sengaja dibawa oleh penonton sebagai tanda masuk disebar disekitar panggung. Sebelumnya MC Ican sempat membacakan harapan-harapan penonton yang tertulis pada dedaunan tersebut. Dan kabarnya dedaunan ini akan disimpan sebagai arsip Zoo untuk kepentingan visual album berikutnya.

Lampu temaram yang di-set sedemikian rupa menambah khusyuk ritus musikal malam itu. Di bagian belakang panggung terdapat sebuah giant screen yang menampilkan film hitam putih tanpa narasi yang bertemakan peradaban manusia. Film ini merupakan hasil remix atas film Baraka. Seperti yang dituliskan di brosur yang dibagikan gratis seminggu sebelum pertunjukan ini dimulai, pertunjukan ini memang dirancang supaya penonton tak hanya menonton penampilan Zoo tapi juga menikmati pemutaran film. Seolah-olah musik Zoo bertindak sebagai scoring film tersebut. Tak berapa lama Rully sang ujung tombak serangan menghampiri keyboard yang terletak di sudut kiri panggung, ia melafalkan sebuah intro yang mirip sebuah mantra sambil sesekali memainkan keyboard-nya. Ada atmosfir tertentu kala dia mengucapkan baris demi baris yang terangkai. Bhakti sang bassist dan dan Obet sang drummer lalu muncul untuk menggauli peralatan masing-masing. Sejurus kemudian mereka sudah berjibaku satu sama lain.

IMG_0507 by you.

Band yang berdiri tahun 2004 itu memang tidak memasang line-up seorang gitaris, namun kekosongan tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap komposisi musik yang dikonstruksi. Bass line yang tebal dengan eksplorasi efek-efek maut disertai daya jelajah sang drummer yang melebihi jangkauan peluru balistik sudah cukup membangun tatanan eksplosif. Bagi yang akrab dengan The Locust, Naked City, atau Melt Banana, mungkin Zoo dapat disejajarkan. Tapi penambahan unsur etnik menjadikan Zoo sebagai band interdisipliner yang layak mendapat posisi diatas rata-rata. Part-part ganjil, eksplorasi sound yang elegan, dan rhythm yang non-linier adalah resep andalan yang dipertahankan sejak kemunculan pertama mereka. “Di babak ini, ’keprimitifan’ sengaja ditampilkan dalam bentuk akustik murni, dan untuk menghilangkan kesan ketertataan pola sengaja agak dikacaukan” tegas Rully.
Kemudian Rully berduet dengan Didit dari Cranial Incisored, memainkan sebuah nomor brutal dan chaotic dengan akurasi tinggi. Asimetris, progresif dan ekstra minimalis. Tak berhenti sampai disitu, 2 personel Armada Racun didaulat untuk turut serta pada lagu berikutnya. Nadia pada keyboard dan Dani pada bass. Mereka bersenyawa dan bersatu padu.

Berikutnya sesi dialog yang telah diatur sedemikian rupa dimulai. Sesi ini memungkinkan interaksi antara Zoo dengan penonton maupun media yang ingin menggali lebih dalam perihal album terbaru Zoo yang baru saja dilansir. Tak sedikit penonton yang aktif melempar pertanyaan berkaitan dengan album terbaru mereka.

IMG_0553 by you.

Setelah sesi dialog berakhir, giliran Zoo lagi untuk perform di sesi kedua. Rully tampil jumawa bersandang Jimbe-nya (sejenis bongo) dengan bertelanjang dada. Konsentrasi penonton tertuju di panggung sementara Rully menguasai tiap inci panggung. Kini giliran Adi Restyadi pada biola tampil gemilang menambah efek seremonial. Tiap gesekan menghasilkan daya tarik tersendiri dan mampu mengimbangi “kebisingan” pemain lain. Di penghujung acara, Zoo tampil bersama para pendukung acara sekaligus. Penonton hanya khidmat terpukau, menyimak tiap detik gelaran acara tersebut sambil sesekali berteriak meriah. Mereka tampak puas dengan format acara yang unik disertai pengisi acara dan merchandise yang unik pula.

Album Trilogi Peradaban yang terdiri dari 3 babak dengan total 22 lagu dapat diunduh gratis lewat situs Yes No Wave. Tapi bagi yang berjiwa kolektor, album ini juga rilis dalam format CD-R dengan kemasan kotak kayu yang worth to buy dan tentunya limited edition.

Adi Renaldi

IMG_0490 by you.
IMG_0577 by you.
IMG_0659 by you.
IMG_0704 by you.
IMG_0678 by you.
IMG_0745 by you.

Foto oleh Swandi Ranadila. Lebih lengkap silahkan log on ke WE NEED MORE STAGES

After 2 years without any single album, Zoo is finally back with their critically-acclaimed full length album entitled “Trilogi Peradaban”…

In 2007, Zoo released their first mini album “Kebun Binatang” under Yes No Wave Music as the antecedent. And they started to steal vast majority attention ever since. The chemistry between both band and label began to spark again when they decided to unleash the sophomore 3-chapter box set CD-R album which contains 22 tracks full blend of chaotic yet ambiguity of ethnicity. “Yes No Wave Music is an ideal medium to hold Zoo’s material, not only its effective distribution, but their free-gift principle is astonishing” Rully said. It’s been a long time since their last performance. And they paid their dues by holding this unforgettable show ever….

Pay your tickets not with cold hard cash you have. All you ever need was just a single leave with your hope written on it. And you can join the whole show and share the moment with them. The leaves that the audiences brought will appear as visual form for their upcoming album. That’s the regulation.
At the front yard, there is also a silk-screen printing service for the comers who had low budget. It Costs only Rp.5000,- and you can have Zoo’s newest artwork printed on your shirt or whatever you may have.

Show was scheduled on time at 7pm, but somehow it seemed so hard to manage on time. Right on 8.15pm the entrance was shut and zero tolerance for the late comers who would potentially disturb the ceremonial performance. The equipment was already set, waiting to be played. And the dim of the yellow soft light added such a certain vibe of transcendental-experience. Rully appeared onstage close to the keyboard and began to spell his repetitive ghost chant – much likely incantation. On the background, a mute black and white video art about civilization was played on a giant screen. This film is a remix from the movie Baraka. And Zoo was playing as if they were the “original soundtrack” or scoring. Even though that seemed not quite worked. But still the audiences enjoyed in deep silence. After sort of introduction, along came Bhakti and Obet who began to set their equipment. The first song was ignited with lightning speed and raw hell-bent bass line. Full of torturing patterns as if they wanted to devastate the entire stage. Totally powerful! That under-one-minute song was successfully gained enthusiasm and warm applauses. Next, Didit from Cranial Incisored ripped down the stage in matter collaboration with Rully. His evil screech was vigorously cracked down the barriers between two different genres. All hell broke loose!!!

With slashing ethnic sound fetish, Zoo becomes one of quintessential inter-disciplinary band on today musical weakness. For fans of The Locust, Naked City, Melt Banana or even The Berzerker, this band will satisfy your prog-experimental thirst. But for narrow-minded who trapped into skepticism, this will truly harm you.

After the first session, there was a face-to-face interaction between audiences and media with Zoo. People who have a question regarding to their newest album could freely ask them. This dialogue was a press conference also. Many of them participating a few questions and Zoo was happily answered in semi-formal way.

The dialogue lasted for about twenty minutes. And Zoo was attempted to do the second session. Rully took his Bongo and took off his shirt, the bad air circulation made him to do that. Again, another track from “Trilogi Peradaban” was launched like a surface-to-air missile looking for target. Rully reigned the whole stage while hitting the bongo. The other members attacked with high-explosive crunching techniques as never imagined before. The duo from Armada Racun rose onstage, this time, Dani on bass and Nadia – who also plays in Risky Summerbee and the Honey Thiefs – played keyboard on the right corner. They dressed in black as if that was a cosmic funeral ceremony. Nadia’s fingers began to dance onward. Their solid-rock performance was supremely made the whole room drowned in their own conscious interpretation. At the end of time Zoo collaborated with all participants, including Adi Restyadi on violin. There is no doubt about their relentless performance that night.

“Trilogi Peradaban” is also released for free and legal via yesnowave.com. And their CD-R format is limited only for 100 copies with smooth and unique wooden case including 3-chapter CDs and 20-page long colorful booklet.

Flattr this!

Share in
Tagged in