Tarik ke bawah untuk versi Bahasa Indonesia

IMG_0724 by you.

ADI RENALDI (YES NO WAVE MUSIC): It’s been a long time before you dropped “Trilogi Peradaban”, what makes you decided to record this full length album?
Well, it’s the realization of our first full length album actually. Some of our materials were written right after our first ep was released. But they were recorded quite long time after it was released. But we see that it is the advantage, we found it more interesting if we added few elements we never thought before.

RULLY (ZOO): Can you tell me a little bit about this album concept?
Same as the title itself, divided into three chapters. Having two perfectly different drummers affected our characters in each chapter. That’s the advantage. In first chapter (Neolithikum) our drummer is Obet with compact, fast, and technical drumming style. In the second chapter (Mesolithikum), Dimek plays the drum with more complete structure, rhythmic, and powerful. And in the last chapter we didn’t use drummer although we have some percussions. In this last chapter you may find it softer without drumming department, but actually they were defined as the most dissonant and “randomized”. Primitivism is stands as the main character in a pure acoustic form, and the patterns are disrupted. So the whole point is, the differences between each chapter are not lyrically but based on each characters and structures.

This album is truly has a strong-built character. What things stand as influences during your creative process?
Mood is definitely influenced the process. I don’t know about the others. But in vocal technique, the process is absolutely influenced by what bands I like and explored at that time. If only the same songs were recorded right now it would probably complete different. The affection on the final would be massive.

Why did you pick up ”Trilogi Peradaban” as the title?
Title is always be an effective way to emphasize the message. On our first ep ”Kebun Binatang”, the title is a direct translation and has literal meaning through out our band name. Besides that, the front artwork was made to strenghten what ”ZOO” is all about. After our identity was emphasized through out the ep, it’s time to emphasize the theme. With straight title using ancient civilazation in every single chapter. And ended with conclusion in the end of a song. Hopefully the listeners could considered that we would like to underline something about civilization. I’m totally seduced to explain what they really are. But i think it’s more satisfying if you find it by yourself by listening and pay a good attention. There are many clues in it 😛

Can tell us about the recording process you had?
Some of our songs in first and second chapter were recorded only in a day. Then we came with the entire vocals. And the third chapter, mostly we made them spontaneously right before we recorded them. The mixing process was done gradually with different operators.

You work in a different city (Rully works in Jakarta, while the two live in Jogjakarta), how would you deal with the band time?
Well, actually, this is Zoo’s hardest odd: we have a very short meeting time. Saturday nite, is the only time for us having routine rehearsal. We found it very hard if we have a show but in other day beside Saturday. But that’s the story, so far we can still manage and accomodates but it’s true that our communication and efectivity is a little bit messed up.

How can you end up with Yes No Wave Music?
Yes No Wave is a very ideal medium to store Zoo’s work. Not only its effective distribution, but also in free-gift principle to share to public. Many bands/musicians using netlabel only to release their solo, experimental projects, and promotional kit. But until releasing trilogy album? It’s completely different story, that means we are click with each other principally. Not only join for a ride. We can guarantee, this wouldn’t be our last release with Yes No Wave Music.

Next plan?
Continue to make songs with similar theme, but in a more explorative way of serving. That’s it, alter all are set then we decide what we’ll do about those staff. Hopefully nothing bad happens.

Thanks!

///////// BAHASA INDONESIA /////////

IMG_0606 by you.

Setelah EP “Kebun Binatang” cukup lama juga hingga kalian merilis “Trilogi Peradaban”, apa yang mendasari kalian untuk merekam album ini?
Yang mendasari untuk merekam ‘Trilogi Peradaban’ ya tiada lain adalah sebagai perwujudan album penuh yang pertama. Sebagian besar lagu di album ini pun sebenarnya ditulis pada masa yang tidak berjauhan dari penulisan materi2 yang ada di ‘Kebun Binatang’. Hanya saja kebetulan direkam lebih belakangan. Tapi justru disitu keuntungannya, karena semakin kesini, ternyata lebih menarik jika dibubuhi beberapa elemen yang belum terpikirkan waktu itu.

Bisa ceritakan sedikit mengenai konsep album “Trilogi Peradaban”?
Konsepnya, seperti judulnya, terdiri dari tiga babak. Dengan memiliki dua pemain drum yang berbeda gaya, Zoo memang jadi punya keuntungan untuk mempengaruhi tiap babak sesuai karakter drumnya. Di babak 1 (Neolithikum), pemain drumnya Obet dengan pukulan yang cepat, padat, dan rumit. Di babak 2 (Mesolithikum), Dimek yang mengisi drum dengan karakter pukulan yang tegas, terstruktur dan berirama. Sedangkan babak 3 (Palaeolithikum), tidak digunakan pemain drum meskipun kadang terdengar suara tetabuhan. Di babak terakhir ini, walaupun tanpa drum dan sekilas terdengar lebih ’lembut’, justru terdiri dari lagu2 yang paling acak. Di babak ini, ’keprimitifan’ sengaja ditampilkan dalam bentuk akustik murni dan pola yang sengaja agak dikacaukan untuk menghilangkan kesan ketertataan. Sebetulnya, di dua babak sebelumnya pola ’kacau’ itu juga diterapkan. Hanya saja, di babak ini, kekacauan tersebut hadir secara akustik. Tentu saja, rasa dan kesan yang muncul pun dengan demikian beda. Jadi secara keseluruhan, pembedaan tiap babak bukan berdasar tema lirik melainkan pada karakter dan struktur lagu.

Album ini memiliki karakter yang cukup kuat, hal-hal apa saja yang mempengaruhi proses kreatif kalian selama pembuatan album ini?
Mood sudah jelas mempengaruhi proses kreatif. Entah kalo personel yang lain ya, tapi kalo untuk vokal, proses kreatif itu sangat terpengaruh teknik bernyanyi apa yang saat itu sedang digemari atau yang sedang asik dijelajahi. Andaikan lagu yang sama direkam sekarang, mungkin saja jadinya bisa lain karena sekarang teknik bernyanyi yang sedang dijelajahi pun sudah lain lagi. Pengaruhnya ke hasil akhir suatu lagu akan sangat besar.

Kenapa mengusung tajuk “Trilogi Peradaban”?
Judul album memang selalu efektif untuk digunakan sebagai penegasan pesan. Di EP ’Kebun Binatang’, judul albumnya sengaja merupakan terjemahan langsung dari nama band untuk mempertegas pesan. Ditambah lagi, sampul albumnya memang dibikin untuk lebih memperkuat apa sebenarnya yang dimaksud ’Kebun Binatang’ disitu. Nah, setelah nama dipertegas lewat EP, kini saatnya mempertegas tema. Dengan judul yang lugas, penggunaan nama-nama peradaban kuno di setiap babak, lirik tiap lagu yang berkesinambungan, dan lengkap dengan kesimpulan di salah satu lagu, diharapkan pendengar pun bisa menyadari bahwa paling tidak album ’Trilogi Peradaban’ ini hendak menggarisbawahi sesuatu mengenai peradaban. Saya sangat tergoda untuk menjelaskan apa saja itu, tapi akan lebih memuaskan jika bisa ditemukan sendiri dengan memaksakan diri untuk mendengar dan memperhatikan. Banyak petunjuknya kok ;p

Bisa ceritakan proses rekaman kalian?
Sebagian besar musik di lagu2 babak satu dan dua direkam dalam waktu satu hari. Vokal kemudian direkam menyusul. Sedangkan babak ketiga, sebagian besar diciptakan secara spontan pada saat hendak direkam. Proses miksing dilakukan secara bertahap oleh operator yang berbeda.

Kamu sendiri bekerja di luar kota, gimana pembagian waktunya?
Ini sebetulnya yang merupakan hambatan terbesar Zoo: waktu bertemu yang sedikit sekali. Malam minggu, yang merupakan slot yang tersedia begitu saya di jogja normalnya dijadikan hari rutin untuk latihan. Yang rumit jika ada acara pentas. Akan sangat sulit jika bukan malam minggu. Dan jika malam minggu pun, akan sulit mengatur jadwal latihan persiapannya. Tapi begitulah, sejauh ini masih bisa terakomodir meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa efektifitas dan komunikasi jadinya terganggu.

Bagaimana kalian bisa bekerja sama lagi dengan Yes No Wave Music?
Yesnowave adalah medium paling ideal untuk menampung karya-karya Zoo. Bukan saja karena metode penyebarannya yang efektif, tapi juga dalam hal prinsip keikhlasannya melepas karya yang bisa dilahap gratis oleh publik. Kebanyakan musisi/band menggunakan jalur netlabel seperti ini untuk merilis karya solo, proyek eksperimen atau semata karya promosional saja. Tapi kalau sampai merilis album trilogi juga lewat jalur ini, itu berarti memang niat karena cocok secara prinsip, bukan karena sekedar numpang. Ini bisa dipastikan bukan karya terakhir yang akan kami lemparkan ke Yes No Wave Music.

Apa rencana zoo ke depan?
Meneruskan membikin karya bertema sama, namun dengan penyajian musik yang lebih eksploratif dan lebih lain. Itu saja dulu, setelah jadi nanti baru kemudian mikir mau diapakan. Semoga lancar.

Trims!!!

Flattr this!

Share in
Tagged in